
bebimi – Jam tangan unisex tren di kalangan Milenial dan Gen Z semakin kuat berkat perpaduan desain minimalis, fitur fungsional, dan fleksibilitas gaya yang bisa dipakai siapa saja. Generasi muda memilih jam tangan bukan hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai pernyataan identitas dan gaya hidup harian.
Popularitas jam tangan unisex tren muncul karena generasi Milenial dan Gen Z cenderung menolak batasan gender dalam fashion. Mereka mengutamakan kenyamanan dan kebebasan berekspresi tanpa terikat label pria atau wanita. Desain yang netral, ringan, dan simpel terasa lebih relevan dengan cara mereka memandang diri sendiri.
Selain itu, jam tangan unisex memudahkan proses belanja. Satu model bisa dipakai pasangan, teman, bahkan anggota keluarga lain tanpa terlihat janggal. Hal ini membuat koleksi jam tangan lebih efisien, tetapi tetap stylish. Di sisi lain, brand juga menangkap peluang ini dengan meluncurkan banyak lini jam berdesain netral.
Generasi muda juga sangat terpengaruh oleh budaya media sosial. Konten fashion di Instagram dan TikTok sering menampilkan gaya couple atau squad dengan jam serupa. Karena itu, jam dengan desain serbaguna dan bisa dipadukan berbagai outfit menjadi pilihan favorit.
Ciri utama jam tangan unisex tren terletak pada desain yang seimbang, tidak terlalu maskulin ataupun feminin. Biasanya diameter case berkisar 36–40 mm sehingga nyaman di berbagai ukuran pergelangan tangan. Bentuk case cenderung bulat atau sedikit kotak dengan sudut lembut agar terlihat modern namun tetap timeless.
Palet warna juga relatif netral. Hitam, putih, silver, gold lembut, rose gold yang tipis, abu-abu, dan warna-warna earth tone sangat dominan. Sementara itu, detail desain tidak berlebihan. Indeks angka sederhana, jarum tipis, dan dial bersih tanpa banyak hiasan menjadi ciri khas.
Pilihan strap sangat berpengaruh pada kesan unisex. Strap kulit polos, mesh stainless steel, dan silikon matte menjadi favorit. Dengan mengganti strap, satu jam bisa berganti karakter dari kasual ke semi formal. Karena itu, banyak brand menawarkan sistem quick-release strap agar pengguna mudah mengganti sesuai kebutuhan.
Media sosial memiliki andil besar dalam mengangkat jam tangan unisex tren. Influencer fashion sering mengunggah OOTD dengan jam tangan netral yang dipadukan streetwear, athleisure, hingga gaya kantoran santai. Konten mix and match ini memberi inspirasi konkret kepada pengikut mereka.
Selain influencer, banyak brand bekerja sama dengan kreator konten untuk kampanye bertema inklusivitas dan fluidity dalam fashion. Kampanye ini menampilkan model beragam gender, bentuk tubuh, dan latar belakang, semuanya memakai model jam yang sama. Pesan visual tersebut sangat kuat bagi Milenial dan Gen Z yang menghargai keberagaman.
Baca Juga: Mengapa fashion netral gender menjadi masa depan gaya
Review jam tangan di YouTube dan TikTok juga berperan. Banyak kreator membahas satu model jam dari sisi ukuran pergelangan tangan kecil hingga besar. Mereka menunjukkan bahwa jam yang sama tetap proposional di berbagai profil pengguna. Akibatnya, kepercayaan diri calon pembeli meningkat saat memilih model unisex.
Segmen analog dan smartwatch sama-sama mendorong jam tangan unisex tren. Di sisi analog, brand klasik menawarkan desain minimal dengan dial bersih dan strap kulit atau mesh. Model seperti ini cocok untuk ke kantor, kampus, maupun acara semi formal tanpa terkesan kaku.
Di kategori smartwatch, bentuk case persegi membulat atau bulat dengan bezel tipis menjadi favorit generasi muda. Warna case netral dan pilihan strap karet atau nilon membuat jam terlihat sporty namun tetap bisa dipadukan dengan outfit kasual harian. Fitur pemantau kesehatan dan notifikasi pesan menambah nilai fungsional.
Karena itu, banyak pengguna membeli satu smartwatch yang kemudian mereka “personalisasi” dengan watch face dan strap berbeda. Meski satu model dipakai berbagai orang, tampilan akhirnya tetap terasa personal berkat kombinasi warna dan tampilan layar.
Saat mencari jam tangan unisex tren, ukuran case dan lug to lug menjadi faktor utama. Pastikan diameter jam tidak terlalu besar hingga melewati lebar pergelangan dan tidak terlalu kecil sampai tenggelam. Mencoba langsung atau mengukur pergelangan sebelum membeli online sangat membantu.
Perhatikan juga ketebalan jam. Milenial dan Gen Z cenderung menyukai jam yang tipis hingga sedang karena lebih nyaman dipakai seharian, terutama saat mengetik di laptop atau menggunakan gawai lain. Jam yang terlalu tebal sering terasa mengganggu aktivitas.
Material menjadi pertimbangan berikutnya. Stainless steel anti karat, kulit asli atau vegan berkualitas, serta silikon hypoallergenic penting bagi kenyamanan jangka panjang. Di sisi lain, pilih warna netral yang mudah dipadukan dengan mayoritas pakaian di lemari agar jam lebih sering terpakai.
Jam tangan unisex tren sangat mudah dipadukan dengan berbagai gaya. Untuk tampilan kasual ke kampus atau coworking space, T-shirt polos, jeans, dan sneakers sudah cukup, lalu tambahkan jam ber-case tipis dengan strap kulit cokelat atau hitam. Kesan santai tetapi rapi langsung terbentuk.
Untuk tampilan semi formal ke kantor, blazer warna netral, kemeja tanpa dasi, dan celana bahan bisa dipadukan dengan jam ber-dial putih atau hitam dan strap mesh. Sementara itu, untuk hangout akhir pekan, jam dengan strap silikon berwarna earth tone cocok dengan hoodie atau overshirt dan celana jogger.
Untuk mereka yang memakai smartwatch, memanfaatkan beberapa strap cadangan merupakan strategi cerdas. Strap nilon untuk olahraga, strap silikon untuk aktivitas outdoor, dan strap kulit atau mesh untuk meeting dapat membuat satu jam terasa seperti tiga model berbeda.
Melihat tren fashion yang semakin inklusif, jam tangan unisex tren diperkirakan akan terus berkembang. Brand besar maupun label independen akan semakin fokus pada desain netral yang bisa dinikmati basis pengguna lebih luas. Selain efisiensi produksi, pendekatan ini sejalan dengan nilai keberagaman yang dijunjung generasi muda.
Di masa depan, kolaborasi lintas brand fashion, seniman, dan kreator digital kemungkinan akan menghadirkan desain jam unisex yang lebih berani. Namun, prinsip dasar kenyamanan, kesederhanaan, dan fleksibilitas gaya tetap menjadi pondasi. Milenial dan Gen Z akan terus mencari jam yang mampu mengikuti ritme aktivitas tanpa mengorbankan estetika.
Pada akhirnya, memilih jam tangan unisex tren menjadi cara praktis bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri secara autentik. Mereka dapat bergerak bebas di antara berbagai peran dan suasana, sambil membawa satu aksesori yang selalu relevan di pergelangan tangan.
This website uses cookies.